Sudah sejak lama resah sama acara Trans TV, Andai aku menjadi..
Melalui acara itu pemirsa diajak untuk menangisi kemiskinan. Memandang sedih kesederhanaan. Melihat cara hidup hidup orang desa sebagai sesuatu yang tidak manusiawi.
Garis besar acara ini adalah Abg kota kelas menengah yang biasanya cupu didatangkan, diinapkan, di rumah orang-orang desa dengan tingkat kemiskinan yang diperlihatkan parah. Selama menginap, abg cupu dipersilahkan untuk bergabung dengan kesehariaan tuan rumah, untuk melihat dan mengalami sendiri bagaimana kehidupan di desa. Abg Cupu, karena seolah-olah hidup di planet lain dan samasekali tidak tau menahu mengenai kondisi masyarakat pedalaman. Sehingga setiap perjuangan hidup bapak-bapak miskin atau ibu-ibu miskin yang rumahnya dikunjungi, dilihat sangat baru, kemudian miris, dan menangis.
Kehidupan pedesaan dilihat menjadi kehidupan yang primitive, sulit, susah, malang, statis dan penuh keterpurukan.
Ajakannya adalah menyetujui bahwa Kehidupan kota dengan individualimenya, matrealistisnya adalah yang terbaik, terbahagia, dan yang manusiawi.
“Desa bukanlah masa lalu yang romantik. Dia masih hidup. Ada masalah memang, namun ada keindahan di sana. Tidak berbeda dengan kota. Orang kota tak selalu tahu. Tak selalu lebih bahagia. Paris bukan satu-satunya masa depan absolut di mana semua orang harus menuju ke sana. Di sana juga banyak masalah, sebagaimana juga ada romantismenya. Pembelahan tegas antara tradisional-modern, antara desa-kota, merupakan sebuah tindak eksklusi. Sebuah laku penyederhanaan yang luar biasa mengaburkan pandangan atas realitas.(Nurhadi Sirimorok*) ”
Saya pikir orang-orang desa tersebut tidak memerlukan tangisan abg cupu. Tangisan memberitahukan, mengingatkan, kepada mereka betapa menyedihkan kehidupan mereka. Betapa mereka tidak bahagia. Bahkan saya rasa itu sangat tidak sopan. Menangisi kondisi rumah dan pekerjaan seseorang.
Yawis ngerti pak lek uripku kere!
Permasalahan kita salah satunya adalah distribusi, namun ketika kita melulu menangis, kita hanya akan menjadi pesimis..
*Penulis kritik buku lascar pelangi melalui tulisannya : Laskar Pemimpi; Andrea Hirata, Pembacanya, dan Modernisasi Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar